Surga di Kaki Perempuan Hujan
semuanya berhak menulis, kapanpun dan dimanapun. seorang gadis yang selalu hidup bersama sayap bidadrinya menuangkan sebuah sajak dalam alur kata-kata.
aku Annisa Laras, hari ini aku menulis tentang Perempuan Hujan..
Bagiku hujan selalu menyimpan berjuta kenangan dibalik pesonanya yang luarbiasa, pesona sakral yang terkadang mengusik alam bawah sadar manusia. Bagaimana tidak, segalanya terasa semakin melankolis saat hujan turun. Anak adam bisa dengan tiba-tiba menangis untuk kemudian beberapa detik selanjutnya senyum simpul sudah menghiasi wajahnya. Begitupun dengan hari ini, gerimis turun mengiringi perjalananku menemui seseorang. Apakah kalian pernah mengalami sebuah perasaan yang membuncah, seakan segalanya sesak muncul ke permukaan? Ya, itulah yang sedang kurasakan saat ini.
Dari salah satu sudut bis aku memandang lurus keluar jendela, sesekali untuk melihat jalanan macet dan berbagai tabiat asli manusia, atau sekedar menatap rintik hujan yang mengalir malas di dinding bis. Tiba-tiba saja seorang seniman jalanan memainkan harmonika dan gitarnya, mengalunkan nada-nada yang tidak asing di telinga. Ya, lagu opick berjudul “Satu Rindu” memenuhi ruang bis sore ini. Ah, rasanya hari ini alam dan Tuhan tau bagaimana caranya membuatku menjadi benar-benar melankolis. Pelan ku hembuskan nafas tanda menahan sesuatu yang keluar dari mataku agar tidak jatuh. Sedikit kuperbaiki cara dudukku, mencari posisi ternyaman untuk menikmati harmoni nan syahdu ini. Sekilas kulihat seniman jalanan tersebut, nampaknya tidak hanya penumpang bis saja yang sangat menikmati alunan nada itu, tapi juga ia sendiri sesekali memejamkan matanya untuk sekedar merasakan ruh dari lagu tersebut. Kembali kuhadapkan wajahku menatap lurus keluar jendela bis. Aku setuju, hujan adalah momen paling tepat untuk benar-benar sendiri dan diam – maksudku, aku tidak mau seorangpun mengajakku berbicara saat ini. Terlalu indah untuk aku lewatkan.
Perlahan kusandarkan kepala ke sisi kiri kursi bis, sepertinya aku cukup lelah hari ini. Sekali lagi, aku benar-benar percaya alasan Tuhan menciptakan hujan, agar ia mampu mengobati jiwa setiap hamba-hambaNya yang terluka, menghilangkan racun yang ada didalam hati, atau menjelma menjadi sebuah mesin waktu, dan mungkin untuk sekedar mencipta kenangan yang dikendaki ada atau menghilangkan kenangan lain untuk kemudian musnah tak berbekas. Dan hari ini, hujan menjadi sebuah mesin waktu bagiku. Mesin waktu yang membawaku berjalan jauh menembus batas ruang di masa lalu. Masa dimana aku benar-benar mengenal perempuan hujan itu.
Jika embun ada dibersamai oleh pagi, maka seseorang yang akan kutemui ini pun ada dibersamai oleh hujan. Maksudku, andai Tuhan memberikan hujan kemampuan untuk berbicara, maka ia akan bercerita banyak tentangnya, tentang masa-masa yang telah ia lalui bersamanya, tentang suka duka perempuan hujan ini menghirup udara kehidupan yang terkadang melegakan, meskipun seringnya menyesakkan. Aku tau alasan Tuhan melahirkannya ke dunia untukku, seyakin saat Tuhan menciptakan hujan untuk bumi. Dan aku sangat yakin, hampir separuh hidupnya ia lalui bersama hujan.
Tiba-tiba saja bis yang aku tumpangi sudah berada di terminal. Rasa-rasanya ingin aku segera berada di tempat dimana perempuan hujan itu menungguku sekarang. Segera ku langkahkan kaki dengan mantap untuk meneruskan perjalanan selanjutnya, ya tinggal satu langkah lagi.
Aku turun dari becak yang membawaku, dari kejauhan aku bisa melihat sosok perempuan paruh baya berdiri menungguku di depan rumah. Dalam waktu yang bersamaan ia langsung merentangkan kedua tangannya, seketika kupercepat langkahku setengah berlari menujunya. Sontak langsung kupeluk tubuhnya, dan ia pun demikian lebih erat. Ya, ini adalah pertemuan pertama kami setelah sekian bulan terpisah oleh jarak dan ruang, aku tidak pernah selama ini berjauhan dengan ibuku. Masih dalam pelukannya, ia usap-usap kepalaku sambil berkata: “bagaimana kuliahnya nak? Baik-baik sajakah?” bisa kupastikan senyum sedang terkembang cantik menghiasi wajahnya. Sayangnya aku terlalu rapuh untuk sekedar melihatnya, aku tak mau ia melihatku menangis.
Biarlah bu, biarkan aku tetap seperti ini ada dalam pelukanmu untuk waktu yang cukup lama lagi. Biarlah Tuhan, biarkanlah kami tetap seperti ini barang sebentar lagi saja. Biarkanlah aku mengingat kembali aroma tubuhnya yang beberapa bulan ini tak pernah aku dapati dimanapun. Biarkanlah aku untuk tetap bersamanya, bersama perempuan hujan yang mampu menaklukan ribuan hujan demi membesarkan dan mengajariku. Karena ingin menjadi seorang ibu makanya aku sekolah tinggi-tinggi, bu. Ibu yang akan mencetak sendiri anaknya menjadi putra-putri peradaban. Biarkanlah aku menangis dalam pelukannya. Bukankah Kau pun menyukai pemandangan ini, Tuhan.
Terimakasih bu karena telah melahirkanku, terimakasih karena telah menjadi ibu bagiku. Maka, bu, biarkan aku menghadiahkan surga untukmu kelak, dan terimakasih sudah menjadi 'surga' bagi kami.
Selamat hari ibu :D
dari anak perempuanmu yang beranjak tumbuh besar :')
Annisa Laras yang kau panggil ica
18 desember 2013
15.04 wib, Bandung.
*sumber gambar: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=676526069046120&set=pb.457615994270463.-2207520000.1387353028.&type=3&theater
*sumber note : https://www.facebook.com/notes/annisa-laras/surga-di-kaki-perempuan-hujan/10151882871101748
aku Annisa Laras, hari ini aku menulis tentang Perempuan Hujan..
Bagiku hujan selalu menyimpan berjuta kenangan dibalik pesonanya yang luarbiasa, pesona sakral yang terkadang mengusik alam bawah sadar manusia. Bagaimana tidak, segalanya terasa semakin melankolis saat hujan turun. Anak adam bisa dengan tiba-tiba menangis untuk kemudian beberapa detik selanjutnya senyum simpul sudah menghiasi wajahnya. Begitupun dengan hari ini, gerimis turun mengiringi perjalananku menemui seseorang. Apakah kalian pernah mengalami sebuah perasaan yang membuncah, seakan segalanya sesak muncul ke permukaan? Ya, itulah yang sedang kurasakan saat ini.
Dari salah satu sudut bis aku memandang lurus keluar jendela, sesekali untuk melihat jalanan macet dan berbagai tabiat asli manusia, atau sekedar menatap rintik hujan yang mengalir malas di dinding bis. Tiba-tiba saja seorang seniman jalanan memainkan harmonika dan gitarnya, mengalunkan nada-nada yang tidak asing di telinga. Ya, lagu opick berjudul “Satu Rindu” memenuhi ruang bis sore ini. Ah, rasanya hari ini alam dan Tuhan tau bagaimana caranya membuatku menjadi benar-benar melankolis. Pelan ku hembuskan nafas tanda menahan sesuatu yang keluar dari mataku agar tidak jatuh. Sedikit kuperbaiki cara dudukku, mencari posisi ternyaman untuk menikmati harmoni nan syahdu ini. Sekilas kulihat seniman jalanan tersebut, nampaknya tidak hanya penumpang bis saja yang sangat menikmati alunan nada itu, tapi juga ia sendiri sesekali memejamkan matanya untuk sekedar merasakan ruh dari lagu tersebut. Kembali kuhadapkan wajahku menatap lurus keluar jendela bis. Aku setuju, hujan adalah momen paling tepat untuk benar-benar sendiri dan diam – maksudku, aku tidak mau seorangpun mengajakku berbicara saat ini. Terlalu indah untuk aku lewatkan.
Perlahan kusandarkan kepala ke sisi kiri kursi bis, sepertinya aku cukup lelah hari ini. Sekali lagi, aku benar-benar percaya alasan Tuhan menciptakan hujan, agar ia mampu mengobati jiwa setiap hamba-hambaNya yang terluka, menghilangkan racun yang ada didalam hati, atau menjelma menjadi sebuah mesin waktu, dan mungkin untuk sekedar mencipta kenangan yang dikendaki ada atau menghilangkan kenangan lain untuk kemudian musnah tak berbekas. Dan hari ini, hujan menjadi sebuah mesin waktu bagiku. Mesin waktu yang membawaku berjalan jauh menembus batas ruang di masa lalu. Masa dimana aku benar-benar mengenal perempuan hujan itu.
Jika embun ada dibersamai oleh pagi, maka seseorang yang akan kutemui ini pun ada dibersamai oleh hujan. Maksudku, andai Tuhan memberikan hujan kemampuan untuk berbicara, maka ia akan bercerita banyak tentangnya, tentang masa-masa yang telah ia lalui bersamanya, tentang suka duka perempuan hujan ini menghirup udara kehidupan yang terkadang melegakan, meskipun seringnya menyesakkan. Aku tau alasan Tuhan melahirkannya ke dunia untukku, seyakin saat Tuhan menciptakan hujan untuk bumi. Dan aku sangat yakin, hampir separuh hidupnya ia lalui bersama hujan.
Tiba-tiba saja bis yang aku tumpangi sudah berada di terminal. Rasa-rasanya ingin aku segera berada di tempat dimana perempuan hujan itu menungguku sekarang. Segera ku langkahkan kaki dengan mantap untuk meneruskan perjalanan selanjutnya, ya tinggal satu langkah lagi.
Aku turun dari becak yang membawaku, dari kejauhan aku bisa melihat sosok perempuan paruh baya berdiri menungguku di depan rumah. Dalam waktu yang bersamaan ia langsung merentangkan kedua tangannya, seketika kupercepat langkahku setengah berlari menujunya. Sontak langsung kupeluk tubuhnya, dan ia pun demikian lebih erat. Ya, ini adalah pertemuan pertama kami setelah sekian bulan terpisah oleh jarak dan ruang, aku tidak pernah selama ini berjauhan dengan ibuku. Masih dalam pelukannya, ia usap-usap kepalaku sambil berkata: “bagaimana kuliahnya nak? Baik-baik sajakah?” bisa kupastikan senyum sedang terkembang cantik menghiasi wajahnya. Sayangnya aku terlalu rapuh untuk sekedar melihatnya, aku tak mau ia melihatku menangis.
Biarlah bu, biarkan aku tetap seperti ini ada dalam pelukanmu untuk waktu yang cukup lama lagi. Biarlah Tuhan, biarkanlah kami tetap seperti ini barang sebentar lagi saja. Biarkanlah aku mengingat kembali aroma tubuhnya yang beberapa bulan ini tak pernah aku dapati dimanapun. Biarkanlah aku untuk tetap bersamanya, bersama perempuan hujan yang mampu menaklukan ribuan hujan demi membesarkan dan mengajariku. Karena ingin menjadi seorang ibu makanya aku sekolah tinggi-tinggi, bu. Ibu yang akan mencetak sendiri anaknya menjadi putra-putri peradaban. Biarkanlah aku menangis dalam pelukannya. Bukankah Kau pun menyukai pemandangan ini, Tuhan.
Terimakasih bu karena telah melahirkanku, terimakasih karena telah menjadi ibu bagiku. Maka, bu, biarkan aku menghadiahkan surga untukmu kelak, dan terimakasih sudah menjadi 'surga' bagi kami.
aku memang tidak tau sakitnya kau melahirkanku,
aku memang tidak tau setiap detik dari jam tidurmu yang aku curi,
aku memang tidak tau kecemasanmu menunggu kami,
aku memang tidak tau betapa gelisahnya kau saat kami sakit,
aku memang tidak tau berapa seringnya hatimu terluka karena sikap kenak-kanakan kami,
aku memang tidak tau besarnya kesabaranmu dalam mengajariku membaca, berhitung dan mengaji,
pun aku memang tidak tau kerasnya kehidupan yang telah kau temui demi membesarkan kami,
namun yang ku tau, Allah pasti menyayangimu, bu :')
Selamat hari ibu :D
dari anak perempuanmu yang beranjak tumbuh besar :')
Annisa Laras yang kau panggil ica
18 desember 2013
15.04 wib, Bandung.
*sumber gambar: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=676526069046120&set=pb.457615994270463.-2207520000.1387353028.&type=3&theater
*sumber note : https://www.facebook.com/notes/annisa-laras/surga-di-kaki-perempuan-hujan/10151882871101748



0 Komentar:
Posting Komentar
Tuliskan Bagianmu, agar sejarah juga mencatatmu dalam Menggiring ASA !
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda