Rabu, 12 Februari 2014

CERPEN ; Kisah Diary : 'sssttt ini tentang tuanku'

Ahh, sudah pukul setengah sembilan malam pasti sebentar lagi dia akan datang dengan ekspresi dan ceritanya yang tidak penting sama sekali. yaa itu menurutku sih. Bagaimana tidak, setiap malam dia datang kepadaku bercerita tentang kisah sehari-harinya yang amat sangat membosankan untuk didengar. Kalau kau jadi aku, pasti kau pun bosan!.
Aku bisa menebak dengan jitu, mungkin malam ini dia akan bercerita tentang teman-teman baru disekolahnya yang membosankan itu, atau tentang kucing kecil di depan sekolah yang amat sangat kumal bulunya karena terciprat genangan air dilubang-lubang jalan, oh atau bisa jadi seperti dua hari yang lalu, saat ia cerita tentang kelasakannya hingga menumpahkan segelas susu yang membuatnya harus dimarahi oleh ibunya. Atau mungkin tentang si Reno, kakak kelas di sekolah itu, yang sangat dia kagumi. Ahhh benar-benar membosankan cerita-ceritanya itu.



Ya ampun !!, dia datang, oh, aku bisa mendengar dari derap langkahnya yang bergerak mendekatiku. aku bosan sekali setiap malam harus menemaninya dan mendengarkan ceritanya. Kapan ini semua akan berakhir, kapan cerita-cerita membosankan itu berhenti ia ceritakan padaku. Seandainya saja ada orang yang memberitahunya bahwa ceritanya itu membosankan, mungkin aku akan berterimakasih sekali.
ah, dari derap langkah dan suara desahan nafasnya aku bisa merasakan kalau dia sudah tepat ada dibelakangku, hufth. Sebentar lagi mungkin akan terjadi insiden kekerasan yang ia lakukan padaku, seperti hari-hari sebelumnya, pasti dia akan mengangkatku dengan cengkraman erat yang menyakitkan kulit indahku dan kemudian memutar-mutar tubuhku, sambil bersenandung ria tanpa dosa, atau bersiul-siul kecil yang amat sangat tidak indah didengar, sama sekali tidak indah!.
upss… tapi tunggu sebentar !!!, apa ini ??, kenapa tubuhku terpercik tetesan air?, hujan kah?, ah tidak! sejak tadi aku merasakan malam ini gerah, dan diluar-pun tak terdengar suara hujan atau gerimis sama sekali. Lalu tetesan apa di tubuh indahku ini, apa  dia menyemprotku karena terlalu gembira, atau saking joroknya dia meludah? Oh tubuh indahku bisa rusak kalau begini. Tapi, tapi lihatlah, ohh ada apa kah ini?

Ow.. Kenapa perasaanku malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya ya, dia juga tak terdengar bersuara sedikitpun, hanya memang desah nafasnya terdengar sangat tidak biasa, terlalu keras untuk nafas normal. ada apa sebenarnya ini ?. wah Tetesan air ini semakin banyak, rasanya aku ingin berteriak sekuat-kuatnya pada orang yang tega membuat kulitku rusak dengan air-air ini “Hentikannnnnnn!!!!!!” aku tak ingin tubuhku rusak, ah tentu suaraku tak terdengar olehnya, dia sama sekali tak bergeming. oh suara apa lagi itu?, seperti sebuah isakan. Ya, suara isakan tangis. Tapi, tidak mungkin sekali dia menangis! Sudah tiga bulan aku menemaninya dan membiarkan tubuhku dicoret-coret dengan kisah-kisahnya yang membosankan itu hingga malam ini aku hanya tersisa 2 lembar saja, tapi setelah selama itu baru kali ini dia terisak menangis dan terlihat sangat sedih, ada apa dengan tuanku hari ini, ya?.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan dia pada kalian, namanya Gita, itu aku tahu tiga bulan lalu saat ia menuliskan ‘Zagita Afnisa Royan (Gita)’ dikolom nama yang ada di halaman awal tubuhku, dari tulisannya di kolom tanggal lahir dan sebagainya, aku tahu bahwa Gita berusia 15 tahun, dan baru masuk SMA bulan lalu.

“Selamat malam diaryku sayang, selama ini, aku nggak pernah cerita tentang mami-ku sama kamu, kan? Kamu tahu kenapa?, sebab dari hatiku sangat membenci dia  sejak tahun lalu, saat perceraian dengan ayahku. yang lebih menyakitkan buataku adalah mami dicerai ayah, karena ayah beberapa kali melihat mami seelingkuh dengan laki-laki lain. Meskipun aku nggak pernah tahu langsung, tapi kebencin itu timbul. Karenanya aku lebih memilih tinggal dengan ayah-ku, meski hanya berdua, mamiku sendiri hanya menemuiku beberapa kali dalam sebulan. Dan malam ini aku ingin cerita tentang apa yang aku alami hari ini. pagi tadi saat istirahat pertama disekolah, aku lihat kak Reno berdiri dilapangan, dengan satu kaki dan tangannya menjewer telinganya sendiri. Lalu timbul rasa penasaranku. Maka aku coba cari tahu, kenapa kak Reno bisa seperti itu…”.

Wah baru kali ini aku bisa dengan tenang dan merasa tesentuh dengan cerita tuanku ini. Sepertinya kali ini emosinya benar-benar tergugah, air matanya pun tak henti-hentinya menetes, sesekali membasai tubuhku, namun kali ini aku tidakprotes dan lebih memilih diam.

“..siangnya saat istirahat kedua, aku dengar bahwa kak Reno dihukum oleh Pak Handoko, karena tidak mengerjakan PR Matematikanya. Karena sudah tahu aku pun berniat kembali kekelas, sebelum sampai dikelasku, aku melewati lorong kecil dan ruang music yang sepi namun terbuka,  kulihat ada kak Reno sendiri didalamnya, dari depan pintu aku bisa dengar kak  Reno sedang menelepon seseorang, hatiku jealous juga sih saat disela-sela percakapan mereka kudengar kak Reno mengucap sayang-sayang, hingga aku benar-benar penasaran, dan aku cobaa buat dengerin dengan seksama. Ternyata  kak Reno habis cerita, kalau dia dihukum di  lapangan sekolah oleh pak Handoko demi cewek ditelepon itu, sebab malam tadi yang harusnya bisa digunakannya untuk mengerjakan PR, justru dihabiskan berdua dengan cewek itu, akhirnya, cewek ditelepon itu meminta maaf dan mengajaknya ketemuan siang ini sepulang sekolah. Kareena dihantui rasa penasaran aku pun bertekat utuk mengikuti Kak Reno sepulangsekolah ini.

*HARD ROOF KAFE* (Senin, 8 Juni 14:24 WITA)
Aku berhasil mengikuti kak Reno tanpa sepengetahuannya, namun sepertinya cewek ditelepon itu belum tiba disana, sebab Reno masih terlihat menunggu, sekitar sepuluh menit kemudian, Reno berdiri dari tempatnya menunggu saat sosok wanita dengan kacamata hitam menghampirinya. Mereka saling cium, dan dari gerak bibir Reno, aku bisa tahu bahwa dia bilang ‘Kok Telat Sayang’. Nggak terlalu lama mereka duduk dan ngobrol, saling canda, dan ketawa, sampai akhirnya wanita itu ngeeluarin amplop cokelat dari tasnya  dan mengeluarkan sedikit ujung isinya, yang ternyata uang untuk dihitung. Dengan senyum sumringah Reno dan wanita itu berdiri, lalu wanita itu membukakacamata hitamnyadan mengambil amplop itu untukdiserahkan ke Reno, aku bisa lihatbahwa Reno bilang ‘Mkakasih ya Sayang, aku makin cinta deh sama kamu’ dilanjutkan peluk cium mereka,, dan wanita itu bergegas balik badan hendak meninggalkan Reno, dan dengan mata yang tidak bisa aku kedipkan, aku tertegun, sepertinya aku kenal wanita itu, wanita yang tampak sangat anggun dan cantik dengankacamata hitam yang kini di tangannya….”

Oh, tidak.. siapa wanita yang telah membuat Gita tertegun, kenapa Gita bilang dia kenal wanita itu?, apa dia teman-teman Gita yang juga suka dengan Reno. Ughh jahat sekali kalau wanita itu adalah teman Gita, apa dia tidak tahu bahwa tuanku ini sangat suka dengan Reno. Lalu apa yang akan Reno lakukan setelah itu?. Aku jadi semakin penasaran, ditambah lagi suasana kamar Gita yang hening mengharu biru penuh isak dan tetes airmatanya, ayo Gita, jangan menangis, kamu harus kuat sayang, jangan menyerah dengan wanita itu, aku yakin kamu jauh lebih cantik dari dia. Dan ayo kamu selesaikan ceritanya, aku rela kamu mencoret-coret tubuhku, dan aku pun rela meskipun harus basah karena tertetesi airmatamu, Gita. aku menjadi tidak sabar sendiri menunggu kellanjutan tulisan Gita yang terhenti karena tangisannya terhadap peristiwa hari ini yang tentu akan membuat sejarah luar biasa tertulis dalam tubuhku,. Wah Gita sudah memegang pena polkadot berbulunya lagi, sepertinya ia ingin segera melanjutkan kisahnya hari ini.


“…Kamu   tahu Diary siapa Wanita itu?. Wanita yang aku kenal sudah sangat lama itu membuat aku tak yakin bahwa itu memang benar-benar dia, ditambah aku benar-benardown dengan penglihatanku dimana Reno menerima gepok uang dari wanita itu. Cowok macam apa Reno itu, aghh aku tidak ingin berburuk sangka dulu, hingga kemdudian aku memutuskan untuk melanjutkan mengikuti mereka, yang keluar dari kafe itu, saling gandeng. Tak malu Kah Reno dengan seragam SMA-nya itu? Oh mereka pergi dan melanjutkan tujuan mereka ke daerah yang sudah sangat aku hafal, dari lokasinya, tempatnya, hingga seluk beluk jalan-jalannya, benar-benar sering aku lalui beberapa kali dalam sebulan daerah ini. Setelah mereka turun dari mobil wanita itu, aku pun lebih memilih diam di taksi yang kutumpangi sambil terus mengamati dengan jeli. Dan saat itu aku menyimpulkan bahwa aku benar-benar sudah tidak salah lagi, mereka pacaran, dan terlihat mereka keluar dari mobil dengan berpelukan mesra, amat mesra namun sangat menjijikan buat aku. seorang Reno yang aku kagumi, saat itu sedang bergelayut manja menuju rumah besar itu bersama wanita yang sangat-sangat aku kenal. Dia adalah Mamiku!!. wanita yang masih menempati posisi terhormat dihatiku, meski aku membencinya sejak perceraian saat itu.
Dahulu.. aku mencoba untuk tidak peduli dan tidakmau tahu dengan urusan orangtuaku, termasuk saat ayahku bilang bahwa mamiku selingkuh yang membuatnya sakit hati dan memutuskan untuk menceraikannya, aku benar-benar tak mau tahu, dan sama sekali tak punya pikiran untuk mencari tahu siapa Pria Idaman Lain Mamiku yang telah bisa menggeser  posisi ayahku dihadapan Mamiku. semapan apakah Pria itu?, dan seperapa baik dibandingkan dengan ayahku?, aku benar-benar tak ingin tahu, saat itu. namun hari ini, tanpa aku minta, dan tanpa aku rencanakan, aku tahu bahwa pria itu adalah Reno. Kakak kelasku yang berhasil membuatku tak bisa tidur karena ketertarikanku kepadanya yang pendiam dan tampak misterius (sampai kemudian aku tahu dia benar-benar cowok paling busuk menurutku).
dan mulai hari ini juga, aku benci dan jijik dengan Kedua orang itu, aku benci dan benar-benar muak dengan mereka, terlebih mamikiu yang sangat amat menghancurkan perasaanku, menjalin hubungan dengan Laki-laki yang hanya beda dua tahun dari usiaku, sekaligus sebagai kakak kelasku, serta menempati posisi khusus dihatiku. Sejak hari ini juga Aku bertekat untuk……”

Oh Gita, kenapa ini?. Kenapa kau berhenti menulisiku, mengapa ceritamu hari ini kau gantung dikata ‘bertekat untuk…’, lalu kenapa kau justru malah menutupku?,  aku tahu kau sedih dan akan menangis lebih keras lagi, tapi aku kini rela air matamu membasahi tubuhku, benar-benar rela.
ayo lanjutkan lagi Gita, tekat apa yang kau berikan pada mamimu yang masih kau hormati dan juga Reno yang kau sayangi itu ?. Jangan membuatku menunggu dan penasaran Gita, ayo raihlah aku kembali dan buka lembaranku untuk lanjutkan ceritamu, hari ini ceritamu sangat menarik untukku. Kali ini benar-benar berbeda menurutku, ayo Gita lanjutkan lagi kisahmu itu.

Oh.. oh.. tidak Gita apa-apaan ini, kenapa kamu mengangkatku dan berjalan menuju lemari bawah tempat kardus-kardus yang berisi buku-buku dan majalah-majalah lama ?, yang aku tau disana ada emapat belas Diarymu sebelum aku. Apa yang akan kau lakukan padaku Gita?, heii kau membuangku? Kenapa Gita? Oh tidak tolong kembali angkat aku, hei hei lalu kenapa kau mengambil buku baru dari lemari diatasku! Kenapa kau menggantiku Gita?, apa salahku,!!

ah unggu dulu. Ya Ampun ternyata halaman-halaman ditubuhku sudah habis dan penuh dengan cerita-ceritanyanya, ternyata usiaku hanya tiga bulan ditangan Gita. Padahal aku masih sangat penasaran dengan tekat apa yang Gita yakini untuk mereka. Aduh Kawan, aku benar-benar tak bisa tidur, karena terus mereka-reka apa yang akan terjadi, mustahil rasanya aku bisa tahu kelanjutan kisah mengharukanmu, Gita. Lagian mengapa lembaranku harus tersisa hanya 2, padahal aku masih sangat ingin menangis untuk kisahmu Gita.

Oh, Gita apa yang kau lakukan, sayang? kau mengunciku di dalam lemari bawah ini, uh pengap sekali,
“heii kau Diary baru diluar sana yang baru saja diambil Gita, aku tunggu kelanjutan kisah Gita ya?, besok-besok saat kau masuk dalam Lemari ini kau harus ceritakan padaku..!”. teriaku.
Jebreddd!! Klik !. lemariku terkunci rapat, dan Gelap.. !!

WENDA ALIFULLOH-Siak, 05 ‎Agustus ‎2012, ‏‎20:33:09


tulislah, dan kau akan memiliki sejarah dalam hidupmu.
bertahanlah, karena sesedih apapun, yakinlah esok kau akan lebih baik
carilah Aku, dan tuliskan semuanya, setelah kau bercerita pada Khalik-mu.


Jumat, 31 Januari 2014

CERPEN : JANJI UNTUK ADIKKU, ALMAGHFIRA !



Jebrett !!!!! terdengar keras bunyi pintu yang sudah kesekian kalinya aku banting hari ini. Hari ini adalah hari liburku, ah tidak sebenarnya tidak hanya hari liburku, tapi hari libur kami. Aku yang memang sedang libur setelah Ujian semester ganjil dikelas XII SMA ini, adikku Almaghfira Lifi yang saat ini juga libur setelah ujian akhir semester ganjilnya dikelas 1 SMP. Ditambah lagi hari ini adalah hari minggu, dimana ibuku sedang tidak disibukkan dengan pekerjaan kantornya. Sedang ayahku, masih di Jawa Tengah mengurus pekerjaanya.

“Abang.. kenapa si kok rebut ?”. terdengar suara ibu lembut dari arah dapur.

  Aku diam..

  Sementara itu didepan pintu kamarku masih berdiri tertegun anak penyebab kemarahanku hingga membuatku menutup pintu kamar dengan keras. Sebenarnya agak terdengar sayup-sayup tangisannya, tapi ah sudahlah aku muak dengan dia, adikku sendiri.

“abang kenapa si ?, kan adiknya Cuma minta di ajarin matematika. Masa minta ajarin sama abangnya sendiri nggak mau..”, terdengar suara ibu lagi, kali ini terdengar di depan pintu kamarku.

“Aku capek bu, hari Libur itu ya untuk libur. Lagian Fira kan juga harusnya libur. Percuma juga belajar kalau nggak nilainya tetap jelek !”, jawabku dengan ketus dari dalam. Terdengar semuanya diam,

“Fira, abang mungkin capek sayang, nanti saja ya belajarnya. Biar ibu yang ajarin, setelah selesai masak ya sayang”, kata ibuku lembut.. jauh lebih lembut dibandingkan padaku, padahal kami sama-sama anaknya.

“Iya bu, kalau gitu Fira bantuin ibu masak aja ya bu, Fira bantuin motong bawang atau apalah, masa sejak kecil Fira nggak di izinkan Mengerjakan pekerjaan wanita bu. Fira kan pingin belajar biar bisa jadi wanita hebat kayak ibu, Fira pingin masak buat abang dan ayah juga, sama seperti ibu”. Balas Fira lembut. Dari dalam kamarku aku dapat mendengar jelas, aku bersungut..

“Manja !! cari muka terus, udah gede juga !”, namun kali ini tak sampai terdengar keluar.

  “jangan sayang, mendingan kamu baca buku saja di kamar sana, katanya pingin pintar matematika kan ?, ibu dengar pingin ikutan Olimpiade Matematika, kan ?”, jawab ibuku yang semakin membuatku kesal, dan bersungut lagi..

“dasar ibu ah.. ! kenapa harus sebegitu memanjakan Fira si, ! Kan dia juga harusnya sudah diajarkan pekerjaan rumah, nggak dimanja kayak gitu. Nggak boleh masak, nggak boleh nyuci, nggak boleh jait bajunya sendiri yang robek. Semuanya berbanding terbalik sama aku yang cowok, justru aku harus cuci baju sendiri, harus bisa memasak untuk kami, harus menjahit sendiri atribut-atribut atau bajuku saat robek. Ibu benar-benar tidak adil.”. lagi-lagi sungutan ini tak begitu keras sehingga tak terdengar sampai keluar.

“tapi bu..”, bantah Fira..

“sayang,.. kan ibu mau kamu jadi Ahli matematika, nanti ibu bujuk abang kamu untuk ajarin kamu deh,”. Ucap ibu lagi..

“Beneran ya bu..”, balas Fira lembut, selanjutnya ia meninggalkan depan kamarku. Dan ibu.. beliau mengetuk kamarku dengan agak keras.., aku membukanya..

“Mana si manja ?, udah pergi ?” kataku ketus saat membuka pintu,

“Abang.. nggak boleh gitu sama adiknya ah, kan adik satu-satunya. Masa nggak disayang.”, balas ibuku..

“Fira itu kan Adik satu-satunya kan bu ? Bukan ANAK SATU-SATUNYA ibu dan ayah ?. lalu kenapa aku merasa perlakuan yang berbeda dari ibu dan ayah ?”. balasku lagi lebih tinggi..

“Abang.. jangan gitu, kalian semua sama kok. Ayah dan ibu sama-sama sayang kalian, sekarang ibu mau minta tolong, coba donk ajarin adik kamu matematika, katanya dia ingin ikut Olimpiade matematika”, kata ibu padaku dengan lembut.

“percuma bu, bagaimana mau bisa kalau nilai-nilainya aja jelek !”, ucapku dengan nada menyindir.

“Abang, jangan gitu. Kalau abangnya saja bisa kenapa adiknya nggak bisa.. ?”, lanjut ibu..

“iya bu iya…”, kataku dengan nada malas, demi mengakhiri perdebatan ini.

Aku memang sering sekali berdebat dengan ibu tentang Fira, terutama saat Fira sudah mulai mengusikku dengan memintaku mengajarinya ini itu, eh bukan ini itu si, tepatnya hanya matematika saja., kata ibu, Fira ingin mengikuti Olimpiade Matematika.



         Jujur, aku sendiri malas untuk mengajarinya, terlebih jika aku ingat nilai-nilai diraportnya yang pas-pasan. Kecuali pelajaran matematikanya yang agak mendingan. Aku juga tak tahu kenapa absensinya begitu banyak di raport, padahal menurutku dia selalu masuk sekolah, memang si aku sering melihat dia sudah dirumah saat belum jam pulang sekolah SMP, sakit katanya. Tapi entahlah, ketidak pedulianku kepadanya ditambah Perilaku ibu dan ayah yang selalu memanjakannya membuat aku merasa tak peduli dengannya.

“Kamu harus hapalin nilai-nilai trigonometri untuk sudut-sudut istimewa ini kalau kamu mau ikut olimpiade !”, kataku ketus. Sebenarnya tujuanku memberinya hapalan agar aku tak terlalu berinteraksi dengannya. Tapi 10 menit kemudian.

“aku sudah hafal bang, Semuanya..”, katanya dengan wajah sumringah.

“Coba, Sin 0 derajat berapa !?”. tanyaku dengan keras .

“NOL Bang..”, jawabnya cepat, yang membuat ku berfikir iseng untuk membuatnya bingung dengan pertanyaan selanjutnya.

“kalau nilai Cosinus NEGATIF 90 derajat berapa ?”, tanyaku dengan senyum nakal.
Tampak dia berfikir beberapa saat, tak seperti saat menjawab Sinus 0 derajat.

“kalau nggak salah 0 Juga ya bang ?”, jawabnya.

“hemm.. abang Tanya Cosinus NEGATIF 90 derajat lho, bukan Cosinus 90 derajat!”, jawabku dengan tujuan membuatnya ragu,

“ya NOL Bang, kan aku ngafalinnya pakai pola gambar di koordinat cartesius !”. JLEB ! padahal aku tak memberikannya bocoran untuk menghafal dengan gambar, ternyata di kepikiran. Jujur aku mengakui adikku ini pintar. Hanya saja perlakuannya ibu dan ayah saja yang membuat aku sering gelap mata padanya.


***

                Hari ini aku sudah harus kembali masuk sekolah. Dengan riang aku segera mempersiapkan diri, batinku sebenarnya sangat senang sebab aku tak akan direpotkan dengan Fira dirumah, minimal sampai pukul 15:00 lah saat aku pulang sekolah. Ayah juga sudah pulang tadi malam, katanya beliau sakit selama di Jawa Tengah sehingga izin pulang, tak seperti biasanya memang.

“Bu, kok nggak ada sarapan ?”. kataku berteriak dari meja makan.

“maaf bang, Fira sakit sejak subuh tadi, jadi ibu tidak sempat masak. Kamu nanti sarapan diluar saja, itu uangnya ada di atas televise udah ibu tambahin”. Kata ibu dari dalam kamar Fira. Ahh simanja berulah lagi, dan untuk kesekian kalinya aku merasakan dampaknya.

“baik bu..”, kataku sembari menyambar uang diatas Televisi, dan segera keluar menuju sekolah.

“Fira Cepat sembuh ya !”, ahh.. tiba-tiba aku berkata seperti itu pada adikku. Entah apa yang terjadi padaku. Tapi yasudah lah,

“Iya bang, makasih. Makasih udah ajarin matematika juga, nanti kalau Fira juara Olimpiade Fira sewa abang sebagai tutornya”, balasnya yang terdengar ia sedang menahan sakit. aku melanjutkan perjalananku kesekolah.

                Hari ini aku merasa sebagai hari kesialanku disekolah, bagaimana tidak. Pagi-pagi saat aku harus mencatat materi ternyata bulpoint aku yang seharusnya ada di tempat alat tulisku tidak ada, sampai aku ingat saat aku mengajari Fira kemarin ia membawa bulpoint itu, sehingga aku harus meminjam kepada temanku setelah dimarahi habis oleh Guru pelajaran itu. siangnya saat aku dari perpustakaan untuk meminjam buku, aku harus menanggung malu lagi, saat buku Matematika, Fisika dan Biologi yang aku pinjam diperpus terhempas bola dari arah lapangan. Dan dari ketiga buku itu Untung hanya buku matematika yang terjatuh, namun buku itu sangat tebal dan suara kerasnya membuat seluruh orang disekitarku memperhatikanku. Sampai bel pulang tanda sekolah berakhir berbunyi dan aku memasuki kelas Bimbingan Olimpiade-pun aku juga masih merasa sial. Bagaimana tidak, buku kumpulan soal yang sudah aku kerjakan dengan rapih ternyata tak kubawa dan aku yakin itu perbuatan Fira, karena hal ini sering terjadi. Aku benar-benar tak tahan dengan hari ini, sehingga aku memohon diri untuk tidak mengikuti kelas sore ini dan bergegas pulang.

                Sepanjang jalan aku sudah menyiapkan kata-kata untuk simanja Fira, karena ulahnya aku hari ini merasa sangat tidak sempurna di sekolah.

“Fira benar-benar ngacoin hari ini, pulpen di ambil, buku bimbingan diambil. Uhhh..”, kataku sepanjang jalan. Sampai tiba-tiba aku tertegun saat aku melihat didepanrumahku ada bendera kuning.

“ayah…”, aku membatin..

                Tuhan inikah sebab kenapa ayah pulang tidak seperti biasanya dan dalam keadaan sakit, ratapku dalam hati sembari tertegun. Aku segera masuk. Tampak ramai orang yang sedang melawat dirumahku. Aku sendiri sudah tak mampu menahan air mata, ah ayah walaupun kau jauh lebih sayang Fira daripada aku, tapi aku sangat menyayangimu yah.. kenapa engkau pergi begitu cepat, bahkan pagi tadi aku tak sempat cium tanganmu karena kau masih tertidur kelelahan.

“abang…”, suara ibu membuyarkan lamunanku.

“bu.. kenapa ini bu ?”, tanyaku sesegukkan.

“adik kamu sudah dipanggil lebih dulu oleh sang pencipta”, terdengar suara berat dari belakangku sembari merangkulku, ayahku.

                Ah.. ayah masih ada, dan ibu juga di hadapanku. Aku mencoba mencerna kata-kata ayah kepadaku, ‘ADIK’.. Apa ?, Fira ? Fira meninggal. Ah.. bukankah ia hanya gadis kecil yang menurutku masih memiliki usia panjang.

“yah.. bu.. Fira kenapa ?”, tanyaku semakin sesegukkan.

“ia nak, adik kamu sudah tiada..”, jawab ibu lembut sembari merangkulku.

***

                Sore ini juga Fira dimakamkan, aku, ayah dan ibu saling berpelukan di samping makan Fira. Aku sendiri tak mampu menahan air mataku ini, bagaimanapun Fira adikku, semua kesalahanku padanya muncul dalam bayangan, entahlah kenapa penyesalan selalu datang di akhir.

“yah.. bu.. memang Fira sakit apa ?”, tanyaku sembari menabur bunga di atas makam adikku satu-satunya.

“Abang, penyakitnyalah yang membuat kami harus memanjakan Fira, lebih tepatnya menjaga Fira. Kami tak ingin dia sakit sedikitpun, meskipun kami tau masa ini pasti akan tiba”, kata ibu disamping kananku.

“aku masih kurang faham bu, Fira sakit apa ?, selama ini ia baik-baik saja”. Jawabku lagi.

“Abang…” suara parau ayah menyapa. Aku tertegun seolah aku tak pantas lagi dipanggil abang, bagaimana mungkin aku dipanggil abang saat ini, saat adikku satu-satunya sudah tiada..

“abang harus tahu, dan ayah yakin abang pasti tau mengenai Hemophilia, kan ?”, kata ayah melanjutkan sapaannya.

“apa yah ? Fira terkena hemophilia ?. nggak mungkin yah.. !!!” jawabku semakin terisak.

                Ah kini aku mengerti kenapa sejak dulu Fira selalu dimanja, dia tak boleh Belajar memasak, mencuci dan menjahit. Tentu ayah dan ibu menghindari luka sekecil apaun bagi Fira, karena penyakit tersebut menyebabkan darah sukar membeku saat terjadi luka, jadi ketika ada luka sedikit saja pendarahan tidak dapat berhenti, darahnya terus keluar. Ah. Bodohnya aku yang tak berfikir itu.

“dan pagi tadi, saat adikmu mengeluh sakit, itulah masa yang tiba untuk Fira, karena sejeli apapun ibu menjaga Fira, maka Masa ini pasti datang. Adikmu cewek bang, hari ini Hait pertamanya. Ibu senang, karena kita bisa menjaga dia sampai hari ini, sampai kodratnya sebagai wanita yang membawanya kembali kepangkuan Allah, bang”. Ucap ibu sembari menangis dan mengusap punggungku.

                Ah,, ya Guruku berkata, Sekuat apapun menjaga seorang wanita hemophilia dari luka, pasti masa ini akan tiba. Masa dimana adiku Fira seharusnya memasuki usi remajanya. Ahhh ya Rabb, kenapa aku tak menyadari bahwa adiku lain. Aku terlalu menutup mata dan hatiku untuk Fira. aku tak pernah peduli kepadanya. Dan hari ini kau menyesali itu ya Allah.

“Fira.. maaafin abang Fir.. maafin…”, Ratapku keras diatas pusaranya. Ayah dan ibu pun mencoba menengkanku, namun aku merasa aku sudah sangat berdosa sebagai abang yang tidak pernah peka terhadap adiknya,

“bang.. sabar bang, biarkan Fira tenang,. Kami sebenarnya ingin memberitahu abang tentang penyakit ini sejak lama, tapi kami takut Fira sampai dengar, jadi kami hanya merahasiakan sampai saat ini,”. Kata ayah kepadaku yang membuatku semakin sesegukan keras.

“FIRAA…. Maafin abang…”, ucapku.

                Aku menangis diatas kubur adikku, Almaghfira Lifi yang hari ini berusia 12 tahun kurang 2 bulan 4 hari. yang hari ini menginjak masa Remajanya dan masa balighnya. Adikku yang cantik, adik satu-satunya yang sangat mencintai matematika. Adikku yang penyabar bahkan jauh lebih sabar dari abangnya yang jahat ini.

                Namaku Yusuf Pradana Lifi, anak pertama dari ayahku Liando Putra dan ibuku Firsya Pratiwi. Kakak terburuk bagi adikku yang kini terbaring di pusara ini. aku beranji selepas pendidikan SMA-ku ini, aku akan kuliah mengambil jurusan yang berkaitan dengan matematika, agar aku selalu ingat Almarhumah adikku dipembaringan ini. aku berjanji..

***

                Namaku Yusuf Pradana Lifi, dan hari ini aku akan memasuki semester 2 di Jurusan Pendidikan Matematika UPI, sesuai janjiku, janji pada adik kecilku setahun lalu. Yang terbaring dengan damai ‘Almaghfira Lifi’.

“untukmu kawan yang bersaudara, sayangi mereka. Sayangi apapun yang ada dari diri mereka, mereka special untukmu. Biarkan mereka tersenyum karenamu, berbagilah dan tutup sedikit ego, agar mata dan hatimu terbuka. Semuanya istimewa.. bahkan saudaramu yang tak kau sukai itu, Allah ciptaka untuk menyempurnakan hidupmu.”

Wenda Alifulloh,
tertumbuk tertusuk duri,
melabuh menguak hati,
aku tak sempurna-Bandung 31-Januari-2014.

Senin, 20 Januari 2014

Aku, Berkali-kali GAGAL !!


              Aku sengaja menuliskan kisah ini, kisah tentang perjalanan dunia akademisku. Bagaimana aku membangun Diri, Sekolahku, Lingkunganku bahkan Juga Prestasi-prestasiku.
                Aku Naik Ke Kelas XII-IPA dengan menyandang Gelar Juara UMUM 1 se sekolahku yang Tiap semester selalu Dapat aku sabet (namun Pernah sekali dapat UMUM 2, Selebihnya Alhamdulillah selalu 1). Aku tidak pernah tahu bagaimana proses ini terjadi, namun yang jelas peran orangtuaku, terutama Mama yang selalu menerima aku dalam prestasi akademikku sejak TK Membuat aku tak pernah tertekan sama sekali. Umumnya, para orangtua akan marah kepada anaknya saat Mereka Tidak dapat Rangking atau Rangkingnya Turun, tapi Mama dan Bapakku selalu Kompak, mereka sama seklai tidak pernah Marah ataupun Sampai Menghukumku saat aku mengalami masa itu. bahkan terkadang ketika aku ‘takut’ Tinggal Kelas (Zaman-zaman SD dulu) mamaku  menjawab dengan kata-kata yang membuat aku yakin pasti aku akan Naik Kelas,
“Nak, Dikelas kamu ada yang lebih bawah dari kamu nggak ?”. kata mama
“ada ma, Kan jumlah siswanya ada 28, aku semester kemarin rangking 16 jadi masih ada 12 yang dibawah ma,”, jawabku sambil Melemah karena takut hari itu akan pembagian Rapor kelas 4 SD.
“berarti insyaallah kamu pasti naik Lah. Kan banyak temen yang di bawah kamu. Yang penting itu usahanya buat naik kelas. Ranking itu Bonus,”. Jawab mama dengan entengnya sambil mengerjakan pekerjaan rumahnya,
                Yah hal-hal itulah yang sering menjadi pendorongku. Karena mama tidak pernah Marah dengan hasil yang aku peroleh justeru membuat aku ingin sekali menjadi sesuatu dikelas, menjadi anak yang sedikit diperhitungkan. Sampai Akhirnya di SD itu Rangkingku perlahan Naik, dari 16 ke 12 ke 10 ke 8 Ke 4 ke 3.. sampai masuk SMP-pun Alhamdulillah aku memilik Progress dari rangking 6 lalu 4 Lalu 2 terus 2 dan 1 terus 1 hingga Lulus dengan Terbaik 1..
                Di SMA, Orangtuaku pun lebih dapat tersenyum manis saat Pembagian Rapor. Sebab menurutku inilah salah satu cara kecilku membayar lelah keringat Orangtuaku untuk menyekolahkanku,. Dengan memberikan senyuman dan rasa bangganya padaku Setiap semester. Sepanjang SMA dikelas aku selalu Dapat Peringkat 1 (kecuali sekali dalam Ujian MID SEMESTER 2 Kelas XI dapat 2), dan Dibonusi dengan Belasan Sertivikat Predikat Juara Umum seperti yang aku ceritakan di awal tulisan ini.
                Sepanjang Dunia pendidikan Formalku, aku Tergolong anak yang Tidak Ahli dalam Olahraga permainan. Sebaliknya aku banyak Memiliki kemampuan dalam Seni dan Sastra. Sedangkan Untuk Pelajaran, Sejak SMP aku dipersiapkan untuk menggeluti Bidang Biologi, oleh guru-guru SMP-ku.. karena dua hal itulah akhirnya aku menata cita-citaku Dalam 5 Impian Wenda :
1.       Dokter (aku suka Biologi dan Kedokteran)
2.       Pengacara (Aku Mampu berbicara dengan baik)
3.       Dosen (karena aku mencintai dunia pendidikan)
4.       Penyiar (aku Mencintai dunia Broadcast)
5.       Penulis (Aku suka sekali Menulis)

Orang bisa mengatakan itu adalah 5 skala priortas ku, tentu aku mengejarnya dari skala tertinggi.. usahaku, selalu untuk unggul dalam ilmu SCIENCE Khusunya Biologi. Selalu Percaya diri dengan menjawab setiap pertanyaan orang mengenai cita-citaku dengan mengatakan “DOKTER” dengan lantangnya,
        Impian menjadi seorang dokter selalu aku kejar. Namun sebagaimana Kata-kata yang sering kita dengar, sekeras apapun kita berusaha maka rencana Tuhanlah yang akan terjadi. Aku berusaha untuk mengejar impian itu,. usaha itu dimualai Dari Mencari Beasiswa, karena aku tahu sulit bagi kami untuk mencapai jurusan itu.
        Beasiswa Pertama yang aku ikuti adalah Beasiswa Bibit Unggul Daerah. Alhamdulillah singkat cerita aku Lulus. Namun itu belum mempermudah jalanku. Ternyata Beasiswa itu Dibatasi hanya untuk 5 PTN. Dan PTN yang aku inginkan untuk menimba ilmu dokter tidak tertera didalamnya.
        Aku masih berusaha, Aku mengikuti Naluriku untuk memilih Kedokteran. Saat aku bilang pada mama dan Bapak, Mereka bilang SEMUANYA TERSERAH PADAKU, Namun dari nada mereka berbicara sepertinya berat untuk mengiyakan. Aku tak peduli. Lalu aku memilih jurusan Pendidikan Dokter di UNDIP, Kampus dimana aku sudah punya kenalan Oom Dokter yang banyak memberikan gambaran. Saat proses menunggu pengumuman, barulah aku sadar bahwa mama tidak sepenuhnya setuju, mama Bilang, :

“Nak, Mama LEBIH SENENG Kalau kamu jadi Guru atau Pengajar lainnya,. Karena mama punya dua anak, yang satu sudah bekerja di PT. yang satu mama pingin jadi pegawai.”.
Kata-kata mama itulah yang membuat aku menjadi krisis kepercayaan diri, Sampai tiba di pengumuman SNMPTN UNDANGAN 2012. Tertulis kata “TIDAK LULUS”.. dan aku Jatuh setengah Mati..
        Aku tidak berputus asa. Aku coba kembali peruntunganku dalam jalur SNMPTN TULIS. Sampai tiba dipengumuman, Aku-pun Dinyatakan GAGAL. Kembali aku Ditampar kerasnya Kegagalan.
        Tak lama, kabar baik mengenai Bibit unggul daerah yang sudah aku miliki aksesnya itu Mengatakan aku Lulus di “TEKNIK SIPIL Institut Pertanian Bogor”. Aku senang, setidaknya hati ini sedikit Terobati dari rasa kekhuwatiran. Sampai diadakan rapat keluarga. Dan Kembali Orangtuaku bilang,
“Wen, Mama nggak setuju kamu di Teknik Sipil. Kayaknya itu bukan Jiwa kamu. Mama tetap merekomendasikan kamu Untuk jadi Pendidik”.
        Dari rapat malam itu, maka pengumuman Itu Aku abaikan dan kesempatan menjadi sarjana Teknik Sipil aku Buang begitu saja.
        Ditengah Kejatuhanku yang Gagal Mengejar Impian Dokterku, Lalu Keberatan Keluarga kami dalam Menerima Teknik Sipil. Aku Khuwatir. Sebab satu-persatu teman-temanku sudah memastikan Almamater Mereka dimana dengan jurusannya..
        Kesempatan Kedua dari Bibit Unggul Daerah muncul, Dengan segala kesusah payahan, aku Fokus untuk Mengambil Pendidikan Di situ… sampai akhirnya Aku Resmi Menjadi Mahasiswa UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA dalam Jurusan Pendidikan Matematika.
        Aku menulis kisa ini dengan singkat dalam moment ini, hanya untuk berbagi kisah hidup. Karena mungkin aku setahun Lebih dulu mengalami Sistem yang menggagalkan aku dan mengajarkan arti sebuah SAKIT dalam hidup ini.
        Bayangkan saja, jika kalian jadi aku. Yang punya prestasi akademis yang ‘Lumayan’. Lalu punya akses menuju yang kalian inginkan. Tapi Kalian GAGAL. Bahkan GAGAL DUA KALI untuk jurusan yang sama. Itu mengajarkan Pada kita, Bahwa Setiap Kesuksesan yang kita raih selama ini. Hanyalah sebuah kesuksesan Lokal. Ibarat kata, Katak dalam Tempurung. KEPEDEAN !! itu yang aku rasakan. Aku marah, aku sedih, aku Kalut. Tetapi lalu Tuhan menyadarkanku dengan Memberikan Pilihan Lain melalui Teknik Sipil yang aku Terima. Namun Kebijakan tuhan tak berhenti disitu. Tiba-tiba Ia juga memberikan aku akses Ke Universitas PENDIDIKAN Indonesia, disitulah saat aku memilih. Sebuah Trend atau sesuatu yang diharapkan Orangtua Kita.
        Akhirnya tahun lalu kau memilih Sesuatu yang diimpikan Orangtuaku. Namun aku sendiri menginginkannya. Menurut Mereka aku mampu Menjalani Titian ini, Titian yang Bernama “PENDIDIKAN MATEMATIKA”, aku yang dulu adalah Seorang Seniman dan Sastrawan, Juga Seorang Biologist. Namun Allah mempercayakanku disini. Di Jurusan Ini bersama Orang-orang Luar Biasa. Ini Perjuangan yang belum berakhir dik. !
        Kawan dan Adik-adikku yang tercinta, juga Kamu yang sedang Takut akan Kegagalan SBMPTN. Dengarlah dan resapilah kisah kecilku ini. Bahwa Setiap yang Terbaik Telah Allah siapkan kepada Kita lengkap dengan Alur Ceritanya. Saat kita Gagal, itu adalah Sebuah pelajaran hidup KECIL. Dan saat Kita berhasil itu hanyalah bonus KECIL.
        Yang paling penting dalam Segala usaha adalah, do’a dari Kedua Orantua dan Kemantapan hati. Terkadang Kita tidak ingin dalam jurusan itu, tapi Orantua menginginkannya, Jika kita mampu, Kenapa Tidak ?. bukankah yang terbaik untuk Kita pasti Orangtua kita Tahu dan Merasakannya, ??
        Sekarang.. Jalani hari seperti Biasa, dan Bertahan dalam HAL apapun yang Terjadi. Entah itu Lulus atau Tidak Lulus. Yang perlu kalian Pahami adalah :


“Saat Kita Menuju Kepada Sebuah Tujuan yang Menurut Kita Baik, Namun Menurut Tuhan Tidak. Maka Tuhan Akan membelokkan Kita ketujuan Terbaik Kita. Proses Pembelokkan itulah yang Amat sangat Menyakitkan” #WendaAlifulloh.

Sabtu, 21 Desember 2013

Pria : Kami Tak harus selalu ungkapkan 'CINTA'

'Kenapa sih cowok itu nggak sering bilang cinta?' dengan riuhnya saya mendengar wanita-wanita di pojok kantin itu. Begitulah mungkin pertanyaan yang sering muncul di benak wanita tentang kami. Yah, memang sudah dari kodratnya, pria tidak semudah itu untuk menunjukkan sisi sentimentil dalam dirinya. Namun bukan berarti mereka tidak cinta. menurut pandangan umum Ada beberapa alasan menarik mengapa kami tidak selalu mengekspresikan perasaan kami.

1. Haruskah kami Mengatakan Cinta?


mungin menurut kalian para wanita, Jawabannya memang harus. Namun untuk kami hal itu bukan berarti harus sering diungkapkan. Lama-lama, kalian yang sedang ada dalam cinta kami, mungkin akan merasa bosan dan merasa kata-kata itu sebagai bualan jika terlalu sering diungkapkan. kami tahu, kapan naluri menghantarkan kami untuk mengutarakan perasaan ini.


2. Cintaku Lebih Dari Kata-Kata


Hal ini berlaku pada kami yang paling sering dikatakan tidak romantis. Mungkin secara verbal kami tidak mengatakannya, namun cobalah perhatikan apakah kami melakukan sesuatu yang lebih untukmu dan hubungan kita ? Biasanya, kami yang benar-benar mencintaimu, mungkin tidak akan banyak bicara, namun melakukan banyak hal yang bisa menunjukkan kesungguhan dan perhatian kami untukmu.


3. Memang Bukan Tipe Romantis


Ada orang yang memang tidak romantis dan mereka mengakui hal itu. Orang seperti ini biasanya memandang cinta dari segi yang lebih logis dan realistis. pandangan ini biasanya dimiliki oleh kami yang punya visi besar. Meski begitu, bukan berarti kami tidak memiliki cinta yang besar bagi pasangan kami. termasuk aku untu dirimu.


4. Punya Pandangan dan Cara Sendiri Untuk Mengungkapkan Cinta Kami
Ada dari kami yang punya pandangan dan cara sendiri untuk menjelaskan cinta kami pada seseorang yang kami cintai. Tidak dengan kata cinta, namun dengan bahasa tubuh, dengan perhatian, dan kami tahu momen-momen yang tepat bagi kami untuk mengatakan cinta pada pasangan kami.


Kadang cinta itu memang perlu diungkapkan lewat kata-kata. Namun ada banyak cara bagi kami seorang pria, untuk memberikan cinta pada pasangan kami. Mungkin tak terdengar lewat ungkapan, namun bisa terlihat dengan mata dan terasa lewat hati. Semoga kalian segera mengerti kami Ladies. berhenti merengek dan merajuk karena kami jarang mengungkapan cinta. kami bukan cowok kemarin sore yang dengan berlebihannya mengatakan 'aku cinta kamu' setiap saat. mari belajar dewasa bersama kami.


nah setelah tahu hal ini, Menurut kalian ladies.. Harus gak sih Bilang I LOVE YOU ..?? Alasanya apa,,? ;)

Surga di Kaki Perempuan Hujan

semuanya berhak menulis, kapanpun dan dimanapun. seorang gadis yang selalu hidup bersama sayap bidadrinya menuangkan sebuah sajak dalam alur kata-kata.
aku Annisa Laras, hari ini aku menulis tentang Perempuan Hujan..



Bagiku hujan selalu menyimpan berjuta kenangan dibalik pesonanya yang luarbiasa, pesona sakral yang terkadang mengusik alam bawah sadar manusia. Bagaimana tidak, segalanya terasa semakin melankolis saat hujan turun. Anak adam bisa dengan tiba-tiba menangis untuk kemudian beberapa detik selanjutnya senyum simpul sudah menghiasi wajahnya. Begitupun dengan hari ini, gerimis turun mengiringi perjalananku menemui seseorang. Apakah kalian pernah mengalami sebuah perasaan yang membuncah, seakan segalanya sesak muncul ke permukaan? Ya, itulah yang sedang kurasakan saat ini.

Dari salah satu sudut bis aku memandang lurus keluar jendela, sesekali untuk melihat jalanan macet dan berbagai tabiat asli manusia, atau sekedar menatap rintik hujan yang mengalir malas di dinding bis. Tiba-tiba saja seorang seniman jalanan memainkan harmonika dan gitarnya, mengalunkan nada-nada yang tidak asing di telinga. Ya, lagu opick berjudul “Satu Rindu” memenuhi ruang bis sore ini. Ah, rasanya hari ini alam dan Tuhan tau bagaimana caranya membuatku menjadi benar-benar melankolis. Pelan ku hembuskan nafas tanda menahan sesuatu yang keluar dari mataku agar tidak jatuh. Sedikit kuperbaiki cara dudukku, mencari posisi ternyaman untuk menikmati harmoni nan syahdu ini. Sekilas kulihat seniman jalanan tersebut, nampaknya tidak hanya penumpang bis saja yang sangat menikmati alunan nada itu, tapi juga ia sendiri sesekali memejamkan matanya untuk sekedar merasakan ruh dari lagu tersebut. Kembali kuhadapkan wajahku menatap lurus keluar jendela bis. Aku setuju, hujan adalah momen paling tepat untuk benar-benar sendiri dan diam – maksudku, aku tidak mau seorangpun mengajakku berbicara saat ini. Terlalu indah untuk aku lewatkan.

Perlahan kusandarkan kepala ke sisi kiri kursi bis, sepertinya aku cukup lelah hari ini. Sekali lagi, aku benar-benar percaya alasan Tuhan menciptakan hujan, agar ia mampu mengobati jiwa setiap hamba-hambaNya yang terluka, menghilangkan racun yang ada didalam hati, atau menjelma menjadi sebuah mesin waktu, dan mungkin untuk sekedar mencipta kenangan yang dikendaki ada atau menghilangkan kenangan lain untuk kemudian musnah tak berbekas. Dan hari ini, hujan menjadi sebuah mesin waktu bagiku. Mesin waktu yang membawaku berjalan jauh menembus batas ruang di masa lalu. Masa dimana aku benar-benar mengenal perempuan hujan itu.

Jika embun ada dibersamai oleh pagi, maka seseorang yang akan kutemui ini pun ada dibersamai oleh hujan. Maksudku, andai Tuhan memberikan hujan kemampuan untuk berbicara, maka ia akan bercerita banyak tentangnya, tentang masa-masa yang telah ia lalui bersamanya, tentang suka duka perempuan hujan ini menghirup udara kehidupan yang terkadang melegakan, meskipun seringnya menyesakkan. Aku tau alasan Tuhan melahirkannya ke dunia untukku, seyakin saat Tuhan menciptakan hujan untuk bumi. Dan aku sangat yakin, hampir separuh hidupnya ia lalui bersama hujan.

Tiba-tiba saja bis yang aku tumpangi sudah berada di terminal. Rasa-rasanya ingin aku segera berada di tempat dimana perempuan hujan itu menungguku sekarang. Segera ku langkahkan kaki dengan mantap untuk meneruskan perjalanan selanjutnya, ya tinggal satu langkah lagi.

Aku turun dari becak yang membawaku, dari kejauhan aku bisa melihat sosok perempuan paruh baya berdiri menungguku di depan rumah. Dalam waktu yang bersamaan ia langsung merentangkan kedua tangannya, seketika kupercepat langkahku setengah berlari menujunya. Sontak langsung kupeluk tubuhnya, dan ia pun demikian lebih erat. Ya, ini adalah pertemuan pertama kami setelah sekian bulan terpisah oleh jarak dan ruang, aku tidak pernah selama ini berjauhan dengan ibuku. Masih dalam pelukannya, ia usap-usap kepalaku sambil berkata: “bagaimana kuliahnya nak? Baik-baik sajakah?” bisa kupastikan senyum sedang terkembang cantik menghiasi wajahnya. Sayangnya aku terlalu rapuh untuk sekedar melihatnya, aku tak mau ia melihatku menangis.

Biarlah bu, biarkan aku tetap seperti ini ada dalam pelukanmu untuk waktu yang cukup lama lagi. Biarlah Tuhan, biarkanlah kami tetap seperti ini barang sebentar lagi saja. Biarkanlah aku mengingat kembali aroma tubuhnya yang beberapa bulan ini tak pernah aku dapati dimanapun. Biarkanlah aku untuk tetap bersamanya, bersama perempuan hujan yang mampu menaklukan ribuan hujan demi membesarkan dan mengajariku. Karena ingin menjadi seorang ibu makanya aku sekolah tinggi-tinggi, bu. Ibu yang akan mencetak sendiri anaknya menjadi putra-putri peradaban. Biarkanlah aku menangis dalam pelukannya. Bukankah Kau pun menyukai pemandangan ini, Tuhan.

Terimakasih bu karena telah melahirkanku, terimakasih karena telah menjadi ibu bagiku. Maka, bu, biarkan aku menghadiahkan surga untukmu kelak, dan terimakasih sudah menjadi 'surga' bagi kami.

aku memang tidak tau sakitnya kau melahirkanku,
aku memang tidak tau setiap detik dari jam tidurmu yang aku curi,
aku memang tidak tau kecemasanmu menunggu kami,
aku memang tidak tau betapa gelisahnya kau saat kami sakit,
aku memang tidak tau berapa seringnya hatimu terluka karena sikap kenak-kanakan kami,
aku memang tidak tau besarnya kesabaranmu dalam mengajariku membaca, berhitung dan mengaji,
pun aku memang tidak tau kerasnya kehidupan yang telah kau temui demi membesarkan kami,
namun yang ku tau, Allah pasti menyayangimu, bu :')


Selamat hari ibu :D
dari anak perempuanmu yang beranjak tumbuh besar :')

Annisa Laras yang kau panggil ica
18 desember 2013
15.04 wib, Bandung.

*sumber gambar: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=676526069046120&set=pb.457615994270463.-2207520000.1387353028.&type=3&theater
*sumber note : https://www.facebook.com/notes/annisa-laras/surga-di-kaki-perempuan-hujan/10151882871101748

Jumat, 20 Desember 2013

Ditengah Perjalanan Panjang yang Bernama 'HIDUP' !

Terimakasih Tuhan, Engkau Masih memegang Semua Mimpi-mimpi Indahku, Masih Selalu Memberikan kenaikan padaku meskipun terlebih dahulu harus menyelesaikan Ujian-ujian yang terkadang aku berfikir tak akan pernah mampu menyelesaikannya.. 
..Terimakasih Tuhan,, Hari Ini engkau masih Memberiku Kesempatan Untuk mencium Harumnya Ramadhan.. 
..Semoga Penyertaanmu dalam setiap Langkah-langkah kehidupanku selalu Memelukku, dan Mengarahkanku Ketempat Terbaik dimasa depan.. 
Menguatkan Tatkala Dipersimpangan Aku Sakit dan Nyaris Terjerembab.. 
..Berikanlah selalu Kesehatan Padaku Dan keluargaku, Rizki yang Dapayt Meningkatkan Taraf Ibadah Keluarga Kami, dan Umur Panjang untuk Kesempatan Memperbaiki diri, serta Kesempatan Untuk Mengakhiri Dalam Khusnul Khatimah.. 
.. 
Rabb, Bimbing selalu Hamba Untuk Menjadi Hamba Dari kekasihmu Rasulullah.. Agar Mendapatkan Kasih-Mu yang Menenangkan Perjalanan Panjang Ini, 
perjalanan yang Telah aku TempuH selama 18 Tahun Lebih Ini.. 
Dari Tergendong di Timangan, Merangkak, Lalu Tertatih Berjalan, Hingga Bisa Berjalan Lancar.. Dan Kini diipersiapkan Untuk Menghadapi Pahitnya Kenyataan Dunia.. 
Di Tuntut Mandiri dari Kemanjaan dalam Tempurung Selama Ini.. 
.. 
Aku Berserah Padamu Tuhan.. 
Aku Mencintaimu.. 
Sangat Mencintaimu, Ibu-Ayahku, Abang-ku, Keluargaku,, dan semua Orang-orang yang Mengasihi serta Menyayangiku. 
...aku Mohon Padamu Tuhan, Berikanlah ketukan Pada Mereka yang Membenciku, yang Mencelaku.. Entah Itu Lahir atau dalam Keheningannya.. Agar mereka Menyampaikan Padaku, agar memberikan Ketukan Padaku.. Untuk Mencambuk dalam Setiap Langkahku.. 
.. 
Aku Mencintai-Mu tuhan.. Benar-benar Mencintai-Mu.. 
.. 
#Indah Ramadhan-Mu Rabb. Semoga Lebih Indah Dari tahun-tahun yang Lalu.. 

(Wenda Alifulloh, 19 Juli 2012).